Minggu, 17 Maret 2013

Sejarah Perbankan di Indonesia


Pendahuluan
Perbankan adalah lembaga keungan yang berperan sangat vital dalam aktivitas perdagangan internasional serta pembangunan nasional.  Pada dunia ekonomi modern saat ini, masyarakat sangat bank minded. Ini dapat dilihat dari makin maraknya minat masyarakat untuk menyimpan, berbisnis, bahkan sampai berinvestasi melalui perbankan. Hal ini menyebabkan semakin maraknya dunia perbankan yang dapat dilihat dari tumbuhnya bank-bank swasta baru walaupun pemerintah semakin memperketat regulasi pada dunia perbankan. Namun tidak semua orang mengetahui sejarah perbankan. Untuk itu, penulis membuat tulisan tentang sejarah perbankan guna mengetahui sejarah perbankan di Indonesia pada zaman dahulu.

Landasan Teori
Menurut undang-undang perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Industri perbankan telah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Industri ini menjadi lebih kompetitif karena deregulasi peraturan.

Pembahasan

Sejarah Perbankan Indonesia
Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Pada masa itu De javasche Bank, NV didirikan di Batavia pada tanggal 24 Januari 1828 kemudian menyusul Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij, NV pada tahun 1918 sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi dalam negeri dan penjualan ke luar negeri serta terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia Belanda. Bank-bank yang ada itu antara lain:
  • De Javasce NV. 
  • De Post Poar Bank. 
  • Hulp en Spaar Bank. 
  • De Algemenevolks Crediet Bank. 
  • Nederland Handles Maatscappi (NHM). 
  • Nationale Handles Bank (NHB). 
  • De Escompto Bank NV. 
  • Nederlansche Indische Handelsbank
Di zaman kemerdekaan perbankan di Indonesia bertambah maju dan berkembang lagi. Beberapa bank Belanda dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. Bank-bank yang ada di zaman awal kemerdekaan, antara lain:
  1. Bank Negara Indonesia yang didirikan tanggal 5 Juli 1946 kemudian menjadi BNI 1946. 
  2. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 Februari 1946. Bank ini berasal dari DE ALGEMENE VOLKCREDIET bank atau Syomin Ginko.  
  3. Bank Surakarta MAI (Maskapai Adil Makmur) tahun 1945 di Solo. 
  4. Bank Indonesia di Palembang tahun 1946.  
  5. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan. 
  6. Indonesia Banking Corporation tahun 1946 di Yogyakarta, kemudian menjadi Bank Amerta.  
  7. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946. 
  8. Bank Dagang Indonesia NV di Banjarmasin tahun 1949.

Sejarah Bank Indonesia di Bidang Perbankan Periode 1953 - 1959

Saat kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950, struktur perekonomian Indonesia, masih didominasi oleh struktur kolonial. Meskipun saat itu struktur perbankan Indonesia boleh dikatakan merupakan komponen sarana moneter yang tidak banyak berperan dalam operasi perbankan, tetapi kondisi semacam ini menimbulkan keinginan kuat masyarakat untuk memasukkan lebih banyak unsur nasional dalam struktur ekonomi Indonesia. Bank Indonesia lahir setelah berlakunya Undang-Undang (UU) Pokok Bank Indonesia pada 1 Juli 1953. Sesuai dengan UU tersebut, BI sebagai bank sentral bertugas untuk mengawasi bank-bank. Namun demikian, aturan pelaksanaan ketentuan pengawasan tersebut baru ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 1/1955 yang menyatakan bahwa BI, atas nama Dewan Moneter, melakukan pengawasan bank terhadap semua bank yang beroperasi di Indonesia.
Pada November 1957, diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan (MUNAP) yang antara lain memutuskan pengambilalihan perusahaan-perusahaan milik Belanda, termasuk bank. Langkah awal untuk nasionalisasi bank-bank Belanda diprakarsai oleh KSAD selaku penguasa militer yang menetapkan bahwa pengawasan atas penyelenggaraan bank-bank Belanda dipercayakan kepada Badan Pengawasan Bank-Bank Belanda Pusat.
Kebijakan pemerintah untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda ditetapkan dalam UU No. 86/1958 yang berlaku surut hingga 3 Desember 1957. Badan Pengawas Bank Pusat mempertahankan direksi lama bank yang diawasi. Beberapa bank Belanda yang dinasionalisasi pada saat itu adalah :
  • Nationale Handelsbank yang pada 1959 menjadi Bank Umum Negara (BUNEG)
  • Escomptobank pada 1960 diubah menjadi Bank Dagang Negara (BDN)
  • Unit Khusus Museum Bank Indonesia: Sejarah Bank Indonesia
3 Nederlandsch Handel Maatschappij N.V. (Factorij) yang pada 1957 digabungkan ke dalam Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan hasil peleburan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan Bank Tani dan Nelayan (BTN). Dengan prinsip berdikari dan semangat nasionalisme yang terus menggelora, pada masa 1950-an pemerintah menyatakan penutupan beberapa bank asing (bukan Belanda), yaitu Overseas Chinese Banking Corporation, Bank of China, serta Hong Kong and Shanghai Banking Corp. berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2/1959.

 Kesimpulan
Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang. dalam sejarah perbankan, arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. Dalam perjalanan sejarah kerajaan tempo dulu mungkin penukaran uangnya dilakukan antar kerajaan yang satu dnegan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan.

Daftar Pustaka
http://carapedia.com/pengertian_definisi_perbankan_info2114.html
http://forum.vivanews.com/sejarah-dan-budaya/91456-sejarah-perbankan-indonesia.html
http://afand.abatasa.com/post/detail/2357/sejarah-perbankan--pengertian-asas-fungsi-dan-tujuan
www.bi.go.id/NR/...49B1.../SejarahPerbankanPeriode19531959.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Bank

Kamis, 10 Januari 2013

Software Komputer Auditing




BAB II
ISI


 Audit Software Komputer Akuntansi

Audit Sistem Informasi adalah proses mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti untuk menentukan bahwa sebuah sistem informasi berbasis komputer yang digunakan oleh organisasi telah dapat mencapai tujuannya, dan menentukan apakah suatu sistem informasi telah melindungi aset, menjaga integritas data, serta memungkinkan tujuan organisasi tercapai secara efektif dengan menggunakan sumber daya secara efisien.
Dalam pelaksanaan audit digunakan etika profesi yang dirumuskan oleh organisasi profesi Information System Audit and Control Association (ISACA).
Audit sistem informasi dilakukan untuk dapat menilai:
1.   Apakah sistem komputerisasi suatu organisasi atau perusahaan dapat mendukung pengamanan aset.
2.   Apakah sistem komputerisasi dapat mendukung pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan.


Tujuan itu antara lain adalah:
1. Pengamanan atas aktiva
Dukungan sistem informasi berbasis komputer dalam pengamanan aktiva yang terdapat di bagian atau fungsi pengolahan data elektronik, yang meliputi: hardware, software, personel, file data dan pendukung sistem informasi. Hardware dapat saja rusak, data dapat hilang dan masih banyak kemingkinan yang terjadi. Seperti halnya aktiva lain, sistem informasi juga harus didukung oleh suatu sistem pengendalian internal yang memadai. Dukungan sistem informasi berbasis komputer dalam pengamanan aktiva juga tidak terbatas hanya pada assets bagian PDE saja, tetapi meliputi juga bagian-bagian lain dalam organisasi.


2. Pemeliharaan atas integritas data.
Integritas data (data integrity) di dalam sebuah sistem informasi berbasis komputer mempunyai pengertian bahwa data yang diolah dalam suatu sistem informasi berbasis komputer haruslah data yang memenuhi syarat:
·         lengkap (completeness)
·         mencerminkan suatu fakta yang sebenarnya (soundness)
·         asli, belum diubah (purity)
·         dapat dibuktikan kebenarannya (veracity)

3. Peningkatan Efektivitas
Penggunaan sistem informasi berbasis komputer harus dapat meningkatkan efektifitas dalam pencapaian tujuan organisasi. Hal ini berarti adanya evaluasi sistem informasi dan kebutuhan pemakai terhadap sistem informasi.
Penggunaan sistem informasi berbasis komputer harus dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya yang dibutuhkan dalam upaya mendukung efisiensi operasi organisasi. Hal ini berarti adalah sebuah sistem informasi yang efisien yaitu dengan penggunaan sumberdaya seminimal mungkin untuk mencapai tujuan organisasi.
Tujuan audit SIA adalah untuk meninjau dan mengevaluasi pengendalian internal yang melindungi sistem tersebut.
•          Ketika melaksanakan audit sistem informasi, para auditor harus memastikan tujuan-tujuan berikut ini dipenuhi :
1.      Perlengkapan keamanan melindungi perlengkapan komputer,  program, komunikasi, dan data dari akses yang tidak sah, modifikasi, atau penghancuran.
2.      Pengembangan dan perolehan program dilaksanakan sesuai dengan otorisasi khusus dan umum dari pihak manajemen.
3.      Modifikasi program dilaksanakan dengan otorisasi dan persetujuan pihak manajemen.
4.      Pemrosesan transaksi, file, laporan, dan catatan komputer lainnya telah akurat dan lengkap.
5.      Data sumber yang tidak akurat atau yang tidak memiliki otorisasi yang tepat diidentifikasi dan ditangani sesuai dengan kebijakan manajerial yang telah ditetapkan.
6.      File data komputer telah akurat, lengkap, dan dijaga kerahasiaannya.


Software Komputer
•          Beberapa program komputer, yang disebut computer audit software (CAS) atau generalized audit software (GAS), telah dibuat secara khusus untuk auditor.
•          CAS adalah program komputer yang, berdasarkan spesifikasi dari auditor, menghasilkan program yang melaksanakan fungsi-fungsi audit.
Pemakaian Software computer
•          Langkah pertama auditor adalah memutuskan tujuan-tujuan audit, mempelajari file serta databse yang akan diaudit, merancang laporan audit, dan menetapkan bagaimana cara menghasilkannya.
•          Informasi ini akan dicatat dalam lembar spesifikasi dan dimasukkan ke dalam sistem melalui program input data.
•          Program ini membuat catatan spesifikasi yang digunakan CAS untuk menghasilkan satu atau lebih program audit.
•          Program audit memproses file-file sumber dan melaksanakan operasional audit yang dibutuhkan untuk menghasilkan laporan audit yang telah ditentukan.
Fungsi Umum Software Audit Komputer
–        Pemformatan ulang
–        Manipulasi file
–        Perhitungan
–        Pemilihan data
–        Analisis data
–        Pemrosesan file
–        Statistik
–        Pembuatan laporan

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Akuntansi sangat berhubungan dengan bidang-bidang lain meskipun hal itu tidak selalu berhubungan, terutama di zaman modern ini yang pertarungan bisnis dan perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat menuntut semua kegiatan menggunakan ilmu akuntansi meskipun terkadang tidak dilakukan persis sesuai dengan aturan.

Senin, 24 Desember 2012



Siklus Flowchart Pada Perusahaan Suku Cadang


Gambar 1
Flowchart Sistem Penjualan Kredit Suku Cadang pada
Astra Semarang



Gambar 1
Flowchart Sistem Penjualan Kredit Suku Cadang pada Astra Semarang (Lanjutan)



Gambar 1
Flowchart Sistem Penjualan Kredit Suku Cadang pada Astra Semarang (Lanjutan)


Gambar 1
Flowchart Sistem Penjualan Kredit Suku Cadang pada Astra Semarang (Lanjutan)


Gambar 1 dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Administrasi Penjualan
         Alur dari sub sistem penjualan kredit suku cadang pada Astra Semarang dimulai
dari diterimanya order dari pelanggan oleh fungsi Administrasi Penjualan via telpon,
fax ataupun Salesman. Berdasarkan order tersebut, fungsi ini entry order ke
komputer dan diproses oleh SAP untuk mencetak FSC rangkap empat yang akan
diotorisasi ke fungsi AR Part Controller melalui persetujuan Administration and
Finance Head. FSC yang terotorisasi lembar satu dan dua diserahkan ke fungsi
Administrasi Cabang, lembar tiga ke fungsi Gudang dan lembar empat ke fungsi
Accounting.
2) Part Inventory
        Fungsi ini sebagai pemegang kendali file persediaan. File induk persediaan suku
cadang tersimpan di memori komputer fungsi ini. Entry order dari fungsi
Administrasi Penjualan on line ke komputer fungsi ini dan secara otomatis data
persediaan terupdate di file persediaan.
3) AR Part Controller
        Entry order dari fungsi Administrasi Penjualan on line ke komputer AR Part
Controller, sehingga data penjualan terupdate di file induk pelanggan berupa file
sejarah, filling number dan ASPD. Print out proses pemutakhiran data berupa DCR
yang diserahkan ke fungsi Salesman.
4) Administrasi Cabang
        Fungsi ini menerima FSC terotorisasi lembar satu dan dua dari fungsi
Administrasi Penjualan untuk diregister ke buku register penjualan yang nantinya
akan diserahkan ke masing-masing Salesman sesuai area pemasaran pelanggan yang
terkait. Setelah itu, FSC lembar satu tersebut diarsip sementara yang nantinya akan
dikirim ke pelanggan setelah faktur terlunasi disertai dengan Surat Pengantar.
Sedangkan FSC lembar dua diarsip permanen sesuai nomor faktur.
5) Fungsi Gudang
        Fungsi ini menerima FSC lembar tiga dari fungsi Administrasi Penjualan.
Berdasarkan FSC tersebut, fungsi ini entry data ke komputer dan diproses oleh SAP.
Proses SAP dari fungsi Administrasi Penjualan on line ke komputer fungsi Gudang,
sehingga entry order dan entry data mengupdate data di file induk gudang, yaitu file
gudang. Entry data dari fungsi ini menghasilkan Packing List rangkap tiga dan Surat
Jalan rangkap empat. FSC lembar tiga, Packing List lembar satu dan dua, Surat Jalan
lembar dua dan empat diserahkan ke fungsi Ekspedisi bersama barang. Surat Jalan
lembar tiga diserahkan fungsi Security, Surat Jalan lembar satu dan Packing List
lembar tiga diarsip permanen sesuai tanggal.
6) Ekspedisi
        Fungsi ini menerima FSC terotorisasi lembar tiga, Packing List lembar satu dan
dua, Surat Jalan lembar dua dan empat dari fungsi Gudang. Berdasarkan dokumendokumen
tersebut, fungsi ini mengirim barang ke pelanggan dan memintakan
pengesahan Surat Jalan dari pelanggan sebagai bukti bahwa barang telah diterima.
FSC lembar tiga, Packing List lembar satu dan Surat Jalan lembar empat diserahkan
pelanggan bersama barang. Sedangkan Packing List lembar dua dan Surat Jalan
lembar dua diarsip permanen sesuai tanggal.
7) Accounting
        Fungsi ini menerima FSC terotorisasi lembar empat dari fungsi Administrasi
Penjualan. Berdasarkan FSC tersebut, fungsi ini entry data ke komputer dan diproses
oleh SAP untuk menghasilkan jurnal penjualan part. Akhir dari dari alur sub sistem
penjualan kredit suku cadang pada Astra Semarang ada pada fungsi ini, yaitu setelah
FSC lembar empat tersebut diarsip permanen sesuai nomor.
8) Salesman
        Fungsi ini menerima DCR dari fungsi AR Part Controller. DCR dikonfirmasikan
ke pelanggan sembari melakukan penagihan piutang.
Suku Cadang pada ASTRA Semarang
Unsur pengendalian intern untuk sistem akuntansi penjualan kredit suku
cadang pada Astra Semarang adalah sebagai barikut:
1) Fungsi penjualan terpisah dari fungsi kredit. Fungsi penjualan dipegang oleh
bagian order suku cadang di bawah Part Departement Head dan fungsi kredit
dipegang oleh AR Part Controller di bawah Administration and Finance
Departement Head.
2) Fungsi penjualan terpisah dari fungsi pengiriman. Fungsi pengiriman
dipegang oleh Bagian Ekspedisi di bawah Departemen Gudang.
3) Fungsi Ekspedisi terpisah dari fungsi Salesman.
4) Transaksi penjualan kredit suku cadang dilakukan oleh fungsi Administrasi
Penjualan, fungsi AR Part Controller, fungsi Ekspedisi, fungsi Salesman dan
fungsi Accounting.
1) Penerimaan order penjualan suku cadang dilakukan oleh fungsi Administrasi
Penjualan dengan komputerisasi hingga tercetak faktur Suku Cadang
(Indirect).
2) Persetujuan pemberian kredit dan otorisasi terbentuknya piutang dilakukan
oleh AR Part Controller dengan membubuhkan tanda tangan pada faktur
suku cadang.
3) Penentuan harga jual, syarat penjualan, syarat pengangkutan barang dan
potongan penjualan ditentukan oleh kantor pusat.
4) Pencatatan piutang didasarkan pada faktur suku cadang yang telah tercetak.
5) Pencatatan ke dalam jurnal penjualan dan jurnal umum dilakukan oleh fungsi
akuntansi berdasarkan tembusan Faktur Suku Cadang (Indirect), dan koreksi
Faktur Suku Cadang (Indirect).

1) Faktur Suku Cadang (Indirect) bernomor urut tercetak dan pemakaianya
dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan.
44
2) Surat Jalan dibuat terkomputerisasi dan pemakaianya dipertanggungjawabkan
oleh fungsi Gudang.
3) Secara harian, AR Part Controller mencetak Laporan Tagihan Harian (Daily
Collection Report/DCR) untuk diberikan kepada Pelanggan untuk
kepentingan penagihan dan konfirmasi secara langsung.
4) Secara periodik diadakan rekonsiliasi Aging Schedule Part DetailS dengan
Akun induk pelanggan oleh AR Part Controller dan Accounting.
5) Secara periodik, AR Part Controller melakukan konfirmasi kepada pelanggan
via telpon atau facsimile untuk tagihan yang bermasalah.

Senin, 29 Oktober 2012

Accounting Information System

BAB I
PENDAHULUAN
           Sistem informasi adalah serangkaian prosedur formal di mana data dikumpulkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan ke para pengguna. Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah sebuah sistem informasi yang menangani segala sesuatu yang berkenaan dengan akuntansi. Selama lima puluh tahun terakhir, sistem informasi akuntansi telah diwakili oleh sejumlah pendekatan atau model yang berbeda. Tiap model baru berubah karena adanya kelemahan dan keterbatasan dari model sebelumnya. Fitur yang menarik dalam evolusi ini adalah model-model yang lebih lama tidak dengan segera digantikan oleh teknik yang lebih baru. Jadi, pada suatu waktu, terdapat berbagai generasi sistem di berbagai perusahaan yang berbeda, bahkan bisa sama-sama ada dalam sebuah perusahaan
ISI
ARTIKEL 1
           pihak manajemen harus memastikan bahwa ERP yang di pilih benar untuk perusahaannya , tidak sebuah sistem ERP yang mampu mengatasi semua masalah di semua perusahaan . menemukan kesesuaian fungsi yang baik membutuhkan proses pemilihan peranti lunak yang menyerupai terowongan , yang dimulai dengan luas yang besar dan secara sistematis akan menjadi makin sempit , proses ini dimulai dengan sejumlah besar pemasok peranti lunak yang merupakan kandidat potensial .
           berbagai pertanyaan evaluasi diajukan ke para pemasok tersebut secara bergiliran . dimulai dengan populasi pemasok yang besar dan sejumlah kecil pertanyaan kualifikasi tingkat tinggi , maka jumlah pemasok tersebut akan berkurang hingga menjadi sedikit dan mudah dikelolah , dengan pertanyaan yang baik lebih dari separuh pemasok dapat disingkirkan dengan pertimbangan hanya paling tidak 10 hingga 20 pertanyaan . dalam tiap tahap yang dijalankan pertanyaan yang diajukan akan menjadi lebih terperinci dan populasi pemasok akan menurun . 
          jika proses bisnis benar-benar unik , sistem ERP harus dimodifikasi agar dapat mengakomodasikan peranti lunak yang terkait dengan industri (khusus) atau agar dapat bekerja dengan sistem warisan yang dibuat secara khusus , beberapa perusahaan seperti penyediaan layanan telekomunikasi dan memiliki operasi penagihan yang unik dan tidak dapat dipenuhi oleh sistem ERP siap pakai . sebelum memulai perjalanan mencari ERP pihak manajemen perusahaan perlu menilai apakah perusahaan tersebut merekayasa ulang berbagai praktik bisnisnya sesuai model terstandardinasi tersebut .

ARTIKEL 2
          mengimplementasikan sistem ERP lebih banyak berkaitan dengan mengubah cara perusahaan menjalankan bisnisnya , dari pada teknologinya akibatnya kebanyakan kegagalan implementasi ERP disebabkan oleh berbagai masalah budaya dalam perusahaan berlawanan dengan tujuan dari rekayasa ulang proses. berbagai strategi untuk mengimplemasikan sistem ERP untuk mencapai tujuan ini mengikuti dua pendekatan umum : pendekatan big bang dan pengenalan .
          metode big bang adalah metode yang paling ambisius dan beresiko diantara kedua metode tersebut , perusahaan yang mengikuti pendekatan ini mencoba untuk mengubah berbagai operasinya dari sistem warisan lamanya kesistem baru secara sekaligus yang mengimplemasikan ERP diseluruh perusahaan . pada hari pertama implementasi tidak ada seseorang pun dalam perusahaan yang akan mencoba sistem baru tersebut . pada dasarnya semua orang dalamperusahaan tersebut adalah trainee yang sedang mempelajari pekerjaan baru .
         ERP yang baru tersebut pada awalnya akan menghadapi penolakan karena penggunaan membutuhkan perubahan . dalam banyak kondisi sistem ERP tidak memiliki kisaran fungionalitas ataupun dikenal seperti sistem warisan yang digantikannya . selain itu karna kini hanya ada sebuah sistem yang melayani semua seluruh perusahaan . orang-orang dibagian input data sering kali harus memasukkan lebih banyak data dari pada yang sebelumnya mereka lakukan dengan sistem warisan yang lebih terbatas fokusnya .
DAFTAR PUSTAKA
  •  JUDUL :
                 Accounting Information System
  • PENERBIT :
                 Salemba Empat
  • PENGARANG :
                 James A.Hall

    

Kamis, 04 Oktober 2012

Sistem Informasi Akutansi #


1. Pengertian

 Kebutuhan akan Sistem InformasiInformasi merupakan hal yang dianggap memiliki tingkat lebih tinggi dan aktif dibandingkan dengan data. Dan Sistem Informasi Akuntansi adalah sistem pengumpulan, penyimpanan dan pengolahan data keuangan dan akuntansi yang digunakan oleh pengambil keputusan. Sebuah sistem informasi akuntansi umumnya metode berbasis komputer untuk pelacakan aktivitas akuntansi dalam hubungannya dengan sumber daya teknologi informasi. Laporan statistik yang dihasilkan dapat digunakan secara internal oleh manajemen maupun eksternal oleh pihak lain yang berkepentingan termasuk investor, kreditur dan otoritas pajak.

Pada suatu sistem informasi terdapat komponen-komponen seperti :

* Perangkat keras (hardware) : mencakup piranti-piranti fisik seperti komputer, server, dan printer.
* Perangkat lunak (software) atau program : sekumpulan instruksi yang memungkinkan perangkat keras untuk dapat memproses data.
* Prosedur : sekumpulan aturan yang dipakai untuk mewujudkan pemrosesan data dan keluaran yang dikehendaki.
* Orang : semua pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan sistem informasi, pemrosesan, dan penggunaan keluaran sistem informasi.
* Basis data (database) : sekumpulan tabel, hubungan, data grafis, dan lain-lain yang berkaitan dengan penyimpanan data.
* Jaringan komputer dan komunikasi data: sistem penghubung yang memungkinkan sumber (resources) dipakai secara bersama atau diakses oleh sejumlah pemakai.

Sistem Informasi Akuntansi terdiri dari 3 subsistem:

- Sistem pemrosesan transaksi, mendukung proses operasi bisnis harian.
- Sistem buku besar/pelaporan keuangan, menghasilkan laporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengembalian pajak.
- Sistem pelaporan manajemen, yang menyediakan pihak manajemen internal berbagai laporan keuangan bertujuan khusus serta informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti anggaran, laporan kinerja, serta laporan pertanggungjawaban.


2. Dalam Tahapan Pembangunan Sistem Informasi. Sistem Informasi diperlukan untuk beberapa tahapan yang satu sama lain saling berkaitan dan merupakan suatu siklus yang tidak pernah berhenti. Adapaun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

A. Identifikasi
Pemahaman awal perlunya pembuatan sistem informasi dan permintaan formal untuk mengembangkan sistem informasi.

B. Inisiasi dan Perencanaan
Untuk menentukan spesifikasi kebutuhan dan untuk mengetahui bagaimana sistem informasi dapat membantu penyelesaian permasalahan. Pada tahap ini dibuat keputusan perlunya dibuat suatu aplikasi atau mengembangkan aplikasi yang sudah ada.

C. Analisis
Melakukan analisis untuk membuat spesifikasi dan mengstrukturkan kebutuhan pengguna serta menseleksi aplikasi lain yang sudah ada. Pada tahapan ini akan diperoleh spesifikasi fungsional sistem.

D. Perencanaan Logika
Mendapatkan dan menstrukturkan kebutuhan sistem informasi secara keseluruhan. Pada tahap ini akan diperoleh spesifikasi rinci data, laporan, tampilan, dan aturan pemrosesan.

E. Perancangan Fisik
Mengembangkan spesifikasi teknologi yang akan digunakan, pada tahap ini akan diperoleh struktur program dan basisdata, serta perancangan struktur fisik.

F. Implementasi
Pembuatan program dan basisdata, melakukan instal dan menguji sistem. Pada tahapan ini akan diperoleh program aplikasi dan dokumentasi.

G. Pemeliharaan
Melakukan pemantauan kegunaan dan fungsi sistem, serta melakukan audit sistem secara periodik.


3.  SIA terdiri atas tiga subsistem utama, yaitu:

1)            Sistem Pemrosesan Transaksi (SPT)
            Sitem pemrosesan transaksi-SPT (transaction processing system) merupakan pusat dari seluruh fungsi sistem informasi dengan:
a)         Mengkonversi peristiwa ekonomi ke transaksi keuangan
b)         Mencatat transaksi keuangan dalam record akuntansi (jurnal dan buku besar)
c)         Mendistribusikan informasi keuangan yang utama ke personel operasi untuk mendukung kegiatan operasi harian mereka
Setiap pemrosesan transaksi menangani peristiwa-peristiwa bisnis yang muncul secara berkala. Untuk dapat secara efisien menangani volume transaksi sebesar itu, jenis-jenis transaksi yang sejenis dikelompokkan dalam siklus transaksi. SPT terdiri atas tiga siklus transaksi, yaitu siklus pendapatan, siklus pengeluaran, dan siklus konversi.
2)            Sistem Pelaporan Buku Besar/Keuangan (SPBB/K)
Sistem pelaporan buku besar (SPBB) dan sistem pelaporan keuangan (SPK) adalah dua subsistem yang saling erat terkait. SPBB dan SPK menghasilkan laporan keuangan tradisional seperti laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, dan pengembalian pajak. Besarnya inputke sistem buku besar datang dari siklus transaksi. Rangkuman aktivitas siklus transaksi ini diproses oleh sistem buku besar untuk memperbarui akun-akun kontrol buku besar. Sedangkan sistem pelaporan keuangan mengukur dan melaporkan status sumber daya keuangan dan perubahannya.
3)            Sistem pelaporan manajemen
Sistem pelaporan manajemen (SPM) menyediakan informasi keuangan internal yang diperlukan untuk memanajemen sebuah bisnis. Laporan-laporan tipikal yang diproduksi oleh SPM meliputi anggaran, laporan varian, analisis biaya-volume-laba, dan laporan-laporan yang menggunakan data biaya lancer (bukan yang historis). Jenis pelaporan ini disebut pelaporandiscretionary (bebas untuk menentukan) Karena organisasi dkapat memilih informasi apa yang ingin dilaporkan dan bagaimana menyajikannya.




sumber : http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_10153/title_1-kebutuhan-akan-sistem-informasi/